Saturday, December 24, 2011

Bukan Harinya Farhan

Wah senang nya hati Farhan, akhirnya dia berhasil juga. Dia telah lihat natijah yang sudah hampir satu tahun dia tunggu. Ternyata dia najah, ya najah, sekarang dia naik tingkat, wah betapa senangnya hatinya Farhan. Lagian ada teman2 yang belum dikasih kesempatan tahun ini. Sekarang Farhan benar-benar puas dengan hasil jerih payahnya selama ini, tidak sia2.


Saking senangnya dada Farhan sesak dan lantas dia terbanagun dari mimpi indahnya.. haha, dia kucek2 kedua matanya, wah ternyata benar dia cuma mimpi. Waduh, sekarang gembira jadi bercampur cemas, takut dan harap. Dengan penasaran langsung dia dekati komputer dan dia buka situs azhar, apa memang sudah keluar natijah syari'ah atau belum. Setelah dia cek, ternyata belum juga keluar, lalu iseng2 dia buka facebooknya, biasalah.. hehe.. ohh ternyata tak ada satupun pemberitahuan.. 
Dan beberapa detik kemudian, dia disapa oleh seorang teman."hey dah liat natijah blum? gimana? najah ngak? kata teman yang lain udah pada keluar tuh. O ya? ya sudahlah, ntar sore aja ana liat, ana cemas nih, takut kalo ntar berita buruk, hehe.. lagian ana malu kalo banyak teman. Tapi temannya masih ngotot, ya sudah lihat aja jangan ditunda2. Setelah dia pikir2 dan dia merasa yakin dengan mimpinya barusan, pikirannya pun berubah, ya sudahlah kalo begitu, ntar aja ana liat... siap2 dulu. Tapi Farhan tidak bisa bohong pada dirinya sendiri, rasa cemas, takut dan harap tetap saja menggelayuti fikirannya.

Anton, teman satu rumah Farhan, dia kelihatan tergesa2. Mau kemana Nton? tergesa2 amat. Iya nih, katanya natijah udah turun tuh, kamu gak liat? yok kita bareng aja. Ah kamu duluan ajalah Nton, ntar ana nyusul ya. Ya sudah lah, ana duluan aja, do'anya akhi, iya, asalamu'alaikum, wa'alaikum salam..

Dalam seketika Antonpun lenyap dari pandangan Farhan, kayaknya dia sudah tidak sabar lagi melihat hasil imtihannya. Tiba2 rasa cemas, takut dan harap pun kembali menghampiri pikiran Farhan, dia termenung dan pikirannya terbang keliling dunia, beawal dari kairo, Arab Saudi, Maroko, Prancis, Jerman, Inggris, Amerika, Cina, Hindia, Malaysia dan akhirnya dia tiba di Indonesia, negri asalnya, tempat dia dilahirkan.

Semakin dia terlarut dia semakin yakin suatu saat nanti dia pasti bisa menginjakkan kaki minimal di 3 negara, Arab Saudi, Prancis dan Malaysia... hahahaha.. Farhan merasa menang dalam hati.

Seketika dia disadarkan oleh sicantik yang selalau setia menemani hari2nya kemana saja dia mau, namanya tidak terlalu romantis, K530i, yah betul itulah dia sicantiknya Farhan. Awalnya dia berfikir untuk cuekin saja, setelah dia liat, ternyata teman seperjuangannya, Asrul. Awalnya dia malas menjawabnya, soalnya dia berfikir Asrul marah sama dia, tadi pagi sebelum sahur, tanpa alasan apa2, kata2nya telah menyakiti Asrul. Ah entah apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak tau. Kenapa akhir2 ini dia sering emosi dan marah2. Setelah dia pikir, akhirnya dia ngak tega, ya sudahlah akhirnya dia angkat juga telponnya, mana tau ada yang penting2 gitu. "salam akhi, wassalam, pa kabar? baik, sudah liat natijah blum? katanya sudah keluar ya. O gitu ya, ya sudah ntar sore saja ana coba lihat. O ya sudah, ntar liatin natijah ana juga ya, iya insya Allah, udah ya, assalam, wassalam.

Uh tiba2 Farhan semakin cemas saja. Lagi2 Farhan termenung dan pikirannya melayang untuk yang kedua kali nya. Tapi kali ini pikirannya langsung melayang ke indonesia. Tiba2 dia terbayang wajah orang2 yang dia sayang dan dia cinta. Wajah Papa yang hampir 2 tahun telah meninggalkannya. Bunda, abang2nya, adek2nya serta orang2 dekat lainnya. Betapa senangnya mereka kalo seandainya hari ini adalah harinya Farhan, dan sebalik nya, bisa dia bayangkan kalo hari ini bukanlah harinya. Na'udzubillah.

Ups, ya sudahlah, sekarang Farhan harus yakin dan optimis kalo hari ini adalah hari nya.. hahah dia sempat tertawa dalam hati.. huhh..

Tok tok tok.. bunyi suara pintu diketok dari luar. Setelah dibuka, Farhan menyaksikan sosok wajah yang ceria, puas penuh kemenangan, tenang. Dan ternyata dia adalah Anton yang tadi duluan ke kampus. Dan dari kamar pojok sana, dia mendengar obrolan Anton dengan teman2 yang lain, ternyata dia najah. Waduh betapa bahagianya dia dan orang2 yang dia cintai. Dengan penasaran Farhan bertanya langsung kepada Anton. Gimana Nton natijahnya? Alhamdulillah ana najah, owh selamat ya, iya. Yang lain gimana? Ada yang jayyid jiddan, jayyid, maqbul dll. Lalu Anton menyebutkan satu persatu nama mereka. Loh ana gimana Nton? afwan ana ngak liat punya antum, yang benar? iya. Atau antum sekedar menghibur ana ya? ah bukan, benar ana ngak liat tadi, mending sekarang antum coba lihat aja kekampus, iya deh Nton.

Setelah menyaksikan tingkah laku Anton tadi, Farhan merasakan hatinya semakin tidak tenang, jantungnya berdetak kencang seperti benderang mau perang.. hehe.. ya sudahlah, sekarang Farhan harus kuatkan hatinya untuk melihat langsung ke kampus, tapi sebelumnya Farhan shalat zuhur dulu. Setelah shalat,  Farhan melantunkan do'a sebanyak2nya, malahan sering dia ulangi do'a yang sama "Allahumma najjihnaa Ya Rabb"

Dalam hati Farhan semakin yakin dengan kasih sayang Allah, karna dia pikir selama ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berdo'a dengan hati yang tulus. Tanpa ragu Farhan langsung ganti pakaian, sweater putih yang selama ini sudah jarang dia pakai, karna takut cepat kotor, hehe.. sebelum cabut, Farhan sempatkan tangan kanannya menyambar topi pet yang selalu setia menemaninya kalo lagi panas2. Mmm semua prsiapan sudah dia rasa siap. Tapi satu hal yang blum yakin dia bawa sampae ke kampus, yaitu mental. Dia masih merasa terpukul dengan sikap Anton barusan. Jangan2 ini pertanda bahwa hari ini bukanlah harinya.

Tanpa persiapan mental, Farhan paksakan kakinya melangkah menuju kampus dengan perasaan cemas, takut dan harap.

Langkah demi langkah tak dia sia-siakan sedikitpun, mulutnya tak henti2nya komat-kamit menyebut dan mensucikan nama, zat dan sifat2Nya yang sempurna. Dengan pikiran tenang dan sedikit bercampur cemas dan takut, Farhan menelusuri gang2 rumah dan jalan2 kecil yang penuh debu menuju kampus. Semakin dekat, jantungnya bergetar semakin kencang, seolah2 dia tak kuasa mengikuti irama2nya yang semakin menyesak dalam dadanya.

Sekarang Farhan sudah berada tepat didepan gerbang kampus. Dengan hati2 dia terus melintasi jalan yang penuh dengan kendaraan yang berdesak2an tanpa sabar. Akhirnya dengan kelihaian, dia berhasil juga berdiri dedepan gerbang kampus tempat dia menimpa ilmu selama ini. Sejenak Farhan terdiam kaku, kampus yang selama ini dia dambakan dalam seketika berubah menjadi tempat hukuman gantung baginya. Dan dia yakin sebagian teman pasti juga merasakan hal yang sama. Ya sudah sekarang dia tawakal pada Allah, apapun yang terjadi itulah yang terbaik baginya.

Bismillah, dia gerakkan kakinya yang sempat kaku sesaat. Dengan hati2, Farhan menelusuri mading kampus satu persatu untuk melihat natijahnya disela2 ribuan natijah mahasiswa yang lain. Dimading 1 tidak dia temukan, dimading 2 juga tidak dia temukan, dimading 3 juga sama. Nah sekarang tinggal 2 mading lagi, mading 4 dan 5.

Dari kejauhan, disana terlihat kerumunan mahasiswa yang dengan teliti melihat natijah mereka. Dan ditembok dekat taman, dia melihat sosok yang amat dia kenal, ya dialah teman se almamaternya sewaktu aliyah dulu, Andre. Dia kelihatan sedang ngobrol dengan salah seorang senior yang sepertimya juga dia kenal, bang Nashri, ya bang Nashri namanya. Tapi Farhan enggan menyapanya, karna kelihatannya dia juga belum melihat ke arah Farhan. Lantas bang Nashri bangkit dari duduknya dan minta ijin sebentar.

Nah sekarang baru Farhan mendekati Andre tadi. "assalamu'alaikun akhi, wa'alaikum salam.. Gimana akhi? najah? alhamdulillah. Mmm kalo ana gimana? udah antum lihatin blum? dengan sedikit hati2 Andre melontarkan jawaban yang pas pada waktu itu. Mmm akhi, yang sabar ya, insya Allah tahun besok antum najah. Dukk,, Farhan seperti disambar petir, kaku, lemas dan membisu, dia tak bisa lagi berbuat apa2. Lalu kemudian Andre bilang, eh akhi, coba antum lihat aja lagi, mana tau ana yang salah lihat. Mm ya sudahlah kalo begitu. Dengan setengah hati, Farhan berusaha mendekati mading ke 5. 

Nah sekarang dia sudah berada di depan mading ke 5, tempat dimana dia akan menyaksikan sendiri hasil jerih payahnya selama ini. Dengan setengah hati, dia coba telusuri satu persatu, dan akhirnya jarinya terhenti disebuah nomor yang dia cari, 19222 atas nama Farhan Habibullah. Yah benar, inilah yang dia cari. Ternyata benar, hari ini bukanlah harinya Farhan, hatinya luluh dan semangatnya terhenyuk. Dan tanpa sadar mata Farhan mendesak dia untuk mengeluarkan airnya, tapi Farhan malu, malu sama teman2 dan malu pada dirinya sendiri. Ah ntah lah, semuanya telah dia saksikan dengan kepala matanya sendiri, benar hari ini bukanlah harinya Farhan. 

Dengan malas Farhan beranjak kebelakang dengan wajah penuh kecewa. Ntah siapa yang harus dia salahkan.. Duktur? ah tidak mungkin, toh ternyata teman2nya banyak yang najah. Ortu? mustahil, karna dialah semangat bagi Farhan. Lantas siapa yang harus dia salahkan? siapa?????? Dirinya sendiri? ah masak, Farhan menyela kata2nya dalam hati: salah ku dimana? kurasa usahaku sudah lebih dari cukup, bahkan jatah tidurku juga sudah ku korbankan demi hasil yang memuaskan.

Hampir semua waktu imtihan waktu malam telah dia korbankan tuk menghafal dan memahami muqorror yang akan di ujikan.

Farhan juga belum bisa terima, dalam hati dia sempat berucap, "ini tidak adil". Farhan merasa terhibur dengan sebuah kata, sebuah kata yang indah yang sering dia tuliskan dan dia ingat, yaitu "Allah itu tidak melihat hasil, tapi sudah seberapa besar usaha yang telah kita lakukan". yah, tapi jujur saja, sampai sekarang Farhan masih blum bisa terima begitu saja.

Tiba2 suara Andre menyadarkan Farhan kembali. Akhi, ngak usah terlalu dipikirkan, insya Allah masih banyak kesempatan. Karna ternyata Andre paham dengan apa yang sedang Farhan rasakan. Setelah itu, bersamaan mereka menuju mading ke4. Fahan teringat pesan Anton sewaktu dirumah tadi, yaitu mencatatkan nilainya. Dan langsung Farhan ambil kerneh Anton dalam saku belakangnya. Setelah itu baru dia cari daftar nama Anton, dan akhirnya ketemu juga, lantas segera dia mengambil hp dari saku depannya dan segera dia catat nilainya Anton. 

Entah kenapa, rasa iri hadir secara tiba2 dibenak Farhan, dan dia berpikir bahwa hari ini resmi dirinya dinobatkan sebagai mahasiswa yang paling bodoh. Waduh sebenarnya ngak wajar sih dia berfikiran seperti itu, toh nyatanya bukan saja dia yang merasakan hal yang sama, kecewa, sakit hati, benci, iri, malu dll.

Belum sempat dia tuliskan nilainya Anton, tiba2 Anton muncul dari sampingnya. Ups akhi, sudah ana tulis nih, afwan ya ana gak bilang dulu kalo ana kekampus lagi. Iya ngak apa2, ya sudahlah... lalu mereka menuju ke arah Andre tadi, dan mereka duduk ditembok dekat taman. Anton dan Andre sibuk ngobrol tentang natijah mereka, sedangkan Farhan sama sekali tidak menghiraukan obrolan mereka, sementara Farhan masih terdiam kaku, tak mampu dia angkat wajah dan bibirnya, dia semakin lemah dan lesu tak bertenaga. Karna memang sekarang bulan puasa sih. Tapi bukanlah puasa penyebabnya.

Nah kemudian Anton dan Andre kembali menghibur Farhan, tapi entah kenpa tak bisa juga dia lenyapkan rasa kecewa yang sedang dia alami saat itu. Dia tetap saja diam tanpa kata. Lalu dia berusaha sedikit senyum walau itu dia paksakan. Huh kembali dia berfikir bahwa hari ini memang bukanlah harinya.

Dan beberapa menit kemudian, dari kejauhan Farhan melihat 2 tampang yang juga sangat dia kenal, ternyata mereka juga teman 1 almamter sewaktu dia di Aliyah dulu, Asrul yang menelpon Farhan dirumah tadi dan Samy. Dengan tersenyum Asrul mendekati mereka bertiga, sementara Samy langsung saja menuju mading ke 4 dengan tidak sabar melihat natijahnya.

Gimana akhi? Asrul menyapa mereka bertiga satu persatu. Pas giliran Farhan spontan dia jawab dengan nada agak dipaksakan. Insya Allah tahun besok akhi. Asrul terdiam dan tampak dari wajahnya rasa kasihan. Sebelumnya Farhan sempat berfikir menghindar dari Asrul, tapi dia urungkan niat tersebut. Dengan rasa berat hati, Asrul meninggalkan Farhan dan menuju kemading 5, kemudian Farhan melihat Samy sudah selesai melihat natijahnya, sepertinya dia puas dan merasa menang, karna memang ini adalah harinya.

Sementara Farhan masih tertekan dengan takdir dirinya. Dia masih blum bisa terima. Sejenak Farhan teringat dengan kesalahannya di ujian term 2 kemarin, Kok yang ngak lewat ujian lisan term 2 doank ya? Farhan berfikir, mungkin disanalah letak salahnya, kesalahan teknis dan kurang ketelitian pada dirinya sendiri.

Ya sudahlah, sekarang tidak perlu disesali lagi, karna semuanya telah terjadi.

Sesaat Farhan dikagetkan oleh sosok yang tak sempat dia sapa tadi, yaitu bang Nashri, tapi herannya dia tidak menanyakan tentang natijah Farhan, Farhan pikir sebenarnya bang Nasri sudah tau dan tidak mau nenambah beban dia. Bang Nashri cuma tanya kabar doang dan habis ini mau kemana? kayaknya langsung pulang aja bang, ya sudah, kita bareng aja keluarnya, sip bang.

Dengan pikiran kosong, Farhan lantas mengajak Anton langsung pulang aja. Nton, kita pulang yuk" eh ana kayaknya ngak langsung pulang Han, ana ke H 10 dulu ada perlu. Oo ya sudahlah, kalo antum gimana Ndre? ana ikut antum ajalah kerumah. Ya sudah, kita keluarnya bareng aja. Eh tanpa Farhan sadari bang Nashri ternyata sudah duluan didepan mereka. Jadi tinggallah mereka bertiga bareng keluar.

Dalam perjalanan menuju rumah, Andre dan Anton berusaha menghibur dan membujuk Farhan untuk tersenyum. Tapi sia-sia, karna Farhan masih saja belum terima apa yang telah menimpa dirinya hari ini, dia masih terdiam dan membisu. Tanpa dia sadari, ternyata sekarang mereka sudah berada didepan rumah sakit Husen.

Beberapa detik kemudian, Farhan disadarkan oleh getaran hp didalam saku celana depannya, lantas dia angkat, oh ternyata suara yang tidak asing lagi baginya, iya, kak Rendy. Salam Han, gimana kabar Farhan? Wa'alaikum salam kak, Alhamdulillah sehat kak, kakak sehat? iya Alhamdulillah kakak juga sehat. Eh Han, Farhan taukan tempat orang jualan gantungan kunci di Husen? Iya kak, tau, kayaknya yang murah tu disimpang sebelah kanan dari arah terminal kak, sebelum pasar husen. Dipasar sih ada, tapi kayaknya agak mahalan kak. Hemm ya sudahlah Han, syukron ya, iya kak sama2, assalamu'alaikum, wa'alaikum salam wrwb.

Dalam hati Farhan berkata2: kok tumben ya kak Rendy nelpon ana, jadi ngerasa aneh, padahal urusannya gak penting2 amat. Ato mungkin dia juga sudah tau ya dengan nasibku hari ini, dan dia tidak mau kasih aku semangat secara langsung.. Ya sudahlah, mungkin saja dia berusaha menghiburku dengan cara yang berbeda". Dalam hati, Farhan bersyukur pada Allah, karna Dia telah menghadirkan pada Farhan orang2 yang amat perhatian. Dia tau, ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah pada hamba2Nya.

Mereka bertiga langsung menyeberangi jalan yang amat rami oleh desakan2 mobil, dan akhirnya mereka sampai juga diseberang jalan. Nah Anton minta ijin dan langsung ambil jalan menuju terminal, dan mereka berdua ambil jalan kearah rumah Farhan. 

Dalam perjalanan menuju rumah, Farhan masih saja kaku dan membisu, dan akhirnya kini mereka sudah berada didepan gerbang masuk imarah tempat Farhan tinggal. Kebetulan rumah Farhan ditingkat 2 dan harus mendaki jenjang demi jenjang untuk sampai disana. Tiap kali dia melangkahkan kakinya, fikirannya semakin tak karuan, pengen nangis tapi masih bisa dia tahan. 

Nah sekarang mereka sudah berada tepat didepan pintu rumah tempat Farhan berdiam. Dengan hati ragu dia paksakan mengetok pintu sampai 3 kali, dan akhirnya pintu dibuka juga, Farhan semakin deg2an. Apa yang harus dia jawab kalo teman2 nanya ini itu.

Baru saja dia langkahkan kaki, sudah disambut dengan pertanyaan yang sangat dia takutkan saat itu. Ups akhi, gimana natijahnya? Farhan mencoba beradaptasi dan menjawab sekenanya. Najah akhi, tapi kapan2. oo... ternyata teman2nya sudah paham, mereka tau kalo Farhan sedang menghibur dirinya sendiri. Ya sudahlah akhi, jangan putus asa ya, masih banyak kesempatan kok. Untuk kedepannya kita sama berjuang lebih giat lagi, Insya Allah hari esok adalah harinya kita.. iya mudah2an..

Tanpa pikir panjang dengan sedikit tampang sedih, Farhan langsung masuk kedalam kamar, dia lepaskan sweater dan topi pet yang sudah menemani sedihnya dihari itu. Lantas dia duduk dan bersandar kedinding melepas sesak yang sudah berjam-jam menyiksa dirinya, bathinnya dan semangatnya. Tiba2 sosok didepan dia terhenti dari kesibukannya didunia maya, dialah seniornya Farhan, kak Fikri. Dan kemudian menyerbu Farhan dengan satu pertanyaan yang sangat Farhan benci saat itu. Gimana Han natijahnya? hemm najah kak, tapi tahun besok. Dan kak Fikri pun juga memahami apa yang dialami Farhan hari itu.

Sejenak kemudian dia hempaskan tubuhnya kekasur, sambil dia tahan desakan air mata yang nyaris tidak dapat dia bendung lagi. Ups, rupanya tingkah laku Farhan diketahui oleh seniornya tadi. Han, biasa ajalah, insya Allah tahun besok najah, banyak do'a dan usaha. Hiks hiks.. Spontan Farhan mengangkat tangan kanannya menuju kedua matanya yang sudah mulai basah. Dan ternyata pertahanan Farhan jebol juga, dengan sigap dia langsung loncat keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Setibanya di nkamar mandi, sejenak dia terhenyuk, barulah dia lampiaskan semua kesedihannya hari itu. Farhan menangis sejadi2nya.

Setelah dia merasa agak puas, barulah dia basuh mukanya yang kelihatan sudah sangat letih sekali, dan tidak lupa sekalian dia berwudhuk niat mendirikan shalat 2 rakaat untuk mengadukan semua kesedihan pada Rabbnya. Farhan mengadu sejadi2nya dan minta ampun atas dosa2nya selama ini. Karna dia mengakui, semua ini memang kesalahan dan keteledoran dirinya terhadap Tuhannya dan dirinya sendiri.

Kini Farhan bertekat akan melakukan yang terbaik bagi dirinya dan Rabbnya, Farhan berniat tak akan putus asa dijalanNya. Karna memang kegagalan itu bukanlah suatu kekalahan, kegagalan adalah awal dari kemenangan. 

Tulisan ini ana persembahkan buat teman-teman yang selalu merindukan kemenangan.. SEMANGAT..!!!

No comments:

Post a Comment